Green Construction & Green Building


Senin, 31 Desember 2018



Pada artikel kali ini akan dibahas mengenai konsep pembangunan yang berkelanjutan (Sustainable Development) dimana dalam mewujudkan konsep tersebut dibutuhkan pemahaman mengenai konsep konstruksi hijau (Green Construction) dan Bangunan Hijau (Green Building). Konsep hijau dalam pembangunan menjadi tren di negara-negara maju dan telah menjadi suatu aturan yang baku dalam proses pembangunan. Dasar dari konsep tersebut tidak lain dikarenakan menurunnya kapasitas dan daya dukung lingkungan dari tahun ke tahun, sehingga sudah selayaknya penerapan konsep green dalam pembangunan harus diterapkan di setiap negara. 

Konsep “Green” dalam pembangunan tidak berarti tren menggunakan media vegetasi dalam dalam proses pembangunan, tetapi mengedepankan penerapan ramah lingkungan mulai dari tahap perencanaan, pengadaan, pelaksanaan, pengoperasian sampai proses pembongkaran suatu bangunan. Dalam hal ini dilakukan melalui proses konsep desain, pemilihan jenis material, metode kerja, pemilihan peralatan kerja serta manajemen selama pengoperasian suatu bangunan.


Konsep Konstruksi Hijau (Green Construction) pada dasarnya merupakan strategi dalam proses pelaksanaan konstruksi yang mengedepankan konstruksi ramah lingkungan baik melalui metode kerja, penggunaan material, penggunaan peralatan konstruksi, manajemen, pengawasan dsb. Pada dasarnya konsep konstruksi hijau merupakan tahap pelaksanaan yang merupakan proses lanjutan dari konsep desain yang ramah lingkungan. Konsep konstruksi hijau bertujuan untuk:
  •        Mereduksi Limbah Material (Waste Material), Dalam hal ini tujuan dari Konstruksi Hijau yaitu mereduksi timbulnya limbah material selama proses konstruksi baik berasal dari material konstruksi (Beton, Rebar, Kayu, Bata, Tegel, Agregat dsb) maupun material non konstruksi (Kemasan, Kertas, Sterofoam makanan, plastik minuman dsb). Hal ini dapat terwujud jika peneran Manajemen Waste Material Konstruksi telah diterapkan dengan baik oleh pihak pelaksana selama proses konstruksi. Upaya ini setidaknya dapat mereduksi biaya yang hilang (Hidden Cost) dari anggaran total material yang dianggarkan dan juga dari aspek lingkungan dapat mereduksi volume pembuangan limbah material pada area pembuangan (Landfill) serta dapat mereduksi potensi pencemaran lingkungan dari material B3 (Bahan Berbahaya dan beracun).  
  • Mereduksi Polusi Selama Konstruksi, Konsep konstruksi hijau juga mengupayakan upaya mereduksi dampak polusi yang dihasilkan selama proses konstruksi. Sumber polusi selama konstruksi dapat memberikan efek terhadap lingkungan misalnya pencemaran debu dari material konstruksi, pencemaran udara yang dihasilkan dari peralatan konstruksi, pencemaran terhadap air dan tanah dari sumber material konstruksi serta pencemaran suara yang menimbulkan kebisingan dari aktifitas peralatan konstruksi. Hal ini tentunya membutuhkan manajemen, metode dan pemilihan material dan peralatan yang lebih ramah terhadap lingkungan.
  • Efisiensi Energi, Sasaran Konstruksi Hijau juga yaitu mengupayakan penggunaan energi secara efisien dan optimal. Selama aktifitas konstruksi penggunaan energi menjadi kebutuhan utama dalam mendukung aktifitas selama konstruksi baik energi listrik maupun bahan bakar. Upaya –upaya yang dapat dilakukan dalam mereduksi energi selama konstruksi misalnya:
  1. Mengurangi penggunaan pendingin ruangan (AC) dengan cara membuat banyak bukaan jendela dan ventilasi pada  direksi keet dan dengan cara memberikan warna cerah atau putih pada bangunan sementara seperti direksi keet agar radiasi panas dapat direduksi dalam ruangan. 
  2.  Mengurangi penggunaan komputer PC dengan menggunakan laptop agar konsumsi energi listrik dapat dikurangi
  3. Menanam tanaman disekitar area direksi keet agar kondisi ruangan menjadi lebih rindang dan sehat.
  4.  Menggunakan lampu jenis (Light Emitting Diode) LED selama operasional konstruksi agar konsumsi energi listrik menjadi lebih sedikit.
  5. Memilih jenis peralatan konstruksi yang memiliki teknologi hemat energi bahan bakar selama operasional.
  6. Memperbanyak bukaan cahaya pada bangunan sementara direksi keet agar penggunaan energi  dari lampu dapat dikurangi selama konstruksi.
  • Efisiensi Penggunaan Air, Sasaran dalam konsep Konstruksi Hijau juga mengupayakan efisiensi konsumsi air selama konstruksi. Upaya ini dapat dilakukan dengan cara menggunakan air seperlunya selama konstruksi serta dapat juga dengan memanfaatkan air limpasan hujan pada suatu tampungan sementara melalui proses treatment untuk digunakan selama proses konstruksi. Dengan melakukan upaya efisiensi kebutuhan air setidaknya dapat menjaga ketersediaan air tanah kedepannya.

Konsep Bangunan Hijau (Green Building) yaitu konsep bangunan secara fisik yang mengedepankan upaya ramah lingkungan selama tahap pengoperasian melalui beberapa kriteria seperti penggunaan material bangunan, penggunaan energi, kondisi sirkulasi udara dan cahaya pada bangunan, konservasi air pada bangunan, pemanfaatan lahan dan manajemen lingkungan disekitar bangunan. Berdasarkan aturan Green Building Council Indonesia (GBCI), 2012 ada beberapa Rating Tools/Greenship atau parameter ukur suatu bangunan dikategorikan sebagai Bangunan Hijau (Green Building) yang dapat diringkas sebagai berikut:
  •  Appropriate Site Development, Dalam hal ini lebih ditekankan pada pemanfaatan lahan suatu bangunan secara layak dan berkelanjutan seperti menyediakan area hijau, area untuk transportasi umum, area untuk pengendara sepeda, area untuk landscape dsb.
  • Energy Efficiency and Conservation, Penggunaan energi secara efisien selama operasional bangunan antara lain dengan menggunakan alat monitoring penggunaan energi listrik, penggunaan cahaya alami dengan memperbanyak bukaan, memperbanyak bukaan ventilasi agar udara dalam ruangan menjadi lebih sejuk sehingga penggunaan AC menjadi lebih berkurang dan penggunaan teknologi energi terbaharukan seperti penggunaan solar panel system.
  • Water Conservation, Upaya efisiensi konsumsi air dengan menggunakan monitoring volume penggunaan air secara berkala, penggunaan air secara efisien, menggunakan teknologi sistem daur ulang air limbah, pemanfaatan teknologi pengelolahan tangkapan air hujan dsb.
  • Material Resource and Cycle, Dalam hal ini memanfaatkan material bangunan yang lebih ramah terhadap lingkungan seperti menggunakan material yang dapat digunakan ulang kembali (reuse) atau didaur ulang (recycle) kembali, menggunakan material yang tidak mencemari lingkungan, menggunakan sistem material yang terfabrikasi dan memanfaatkan material lokal,
  • Indoor Health and Comfort, Parameter bangunan hijau juga mengutamakan kenyamanan penghuni dalam sebuah bangunan antara lain menjaga sistem sirkulasi udara dalam bangunan agar tetap nyaman, kenyamanan suhu bangunan, menjaga kebisingan dalam bangunan, serta kenyamanan dalam hal visual terhadap bangunan.
  • Building Environmental Management,  Berupa manajemen pengelolahan limbah yang dihasilkan selama operasional suatu bangunan dan upaya mereduksi polusi yang dihasilkan pada sebuah bangunan yang berdampak terhadap lingkungan disekitarnya.
  •  
Dari penjelasan tersebut maka jelas bahwa konsep Konstruksi Hijau lebih ditekankan pada proses/aktifitas pada tahap pelaksanaan sedangkan konsep Bangunan Hijau lebih kepada fisik suatu bangunan selama masa operasionalnya. Tentu saja secara umum untuk mengwujudkan hal tersebut dibutuhkan biaya yang tidak sedikit sebagai biaya investasi awal namun hal ini akan memberikan dampak positif jika dilihat dan dianalisis sepanjang siklus hidup sebuah bangunan ke depannya, hal ini dikarenakan secara tidak langsung dapat menekan biaya operasional sebuah bangunan dan mereduksi dampak negatif terhadap lingkungan. Dari segi intangible benefit dapat memberikan dampak positif berupa peningkatkan produktivitas, kesehatan dan kualitas hidup bagi penghuninya. Peran kebijakan Pemerintah dalam hal ini juga dibutuhkan untuk mendorong terwujudnya masyarakat konstruksi yang lebih mengedepankan konsep ramah lingkungan dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Semoga bermanfaat. Terima Kasih.


Oleh: Dr. Ir. James Thoengsal, M.T., IPM.

3 komentar:


  1. Terima kasih atas atas informasi di atas JANGAN LUPA KUNJUNGI LINK DI BAWAH INI
    https://aik.co.id/artikel/aspek-kriteria-material-bangunan-hijau/

    BalasHapus
  2. Terima kasih atas atas informasi di atas JANGAN LUPA KUNJUNGI LINK DI BAWAH INI
    https://kontraktorjogja.co.id/material-unggul-yang-ramah-lingkungan/

    BalasHapus